Dalam konteks
toleransi antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas. Dalam hubungannya dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam mengajarkan
agar umat Islam berbuat baik dan bertindak adil, selama tidak berbuat
aniaya kepada umat Islam. Al-Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam
mengutamakan terciptanya suasana perdamaian, hingga timbul rasa kasih sayang
diantara umat Islam dengan umat beragama lain. Kerjasama dalam
bidang kehidupan masyarakat seperti penyelenggaraan pendidikan, pemberantasan
penyakit sosial, pembangunan ekonomi untuk mengatasi kemiskinan, adalah
beberapa contoh kerja sama yang dilakukan antara umat Islam dengan umat
beragama lain.
Namum perlu
ditegaskan lagi, toleransi tidak dapat disama artikan dengan mengakui kebenaran
semua agama dan tidak pula dapat diartikan kesediaan untuk mengikuti ibadat-ibadat
agama lain. Toleransi harus dibedakan dari komfromisme, yaitu menerima apa saja yang
dikatakan orang lain asal bisa menciptakan
kedamaian dan kebersamaan.
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa
teks yang mendukung sikap positif terhadap keyakinan lain. Misalnya yang
menyiratkan bahwa pada dasarnya ajaran agama-agama kaum muslimin seharusnya
tidak membedakan ajaran para Rasul. Juga pada tempat-tempat ibadah dari
agama yang berbeda-beda banyak disebut di Al-Qur’an:
“Kata Rasulullah dan kaum mukminin….Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah 2 : 285).
Kebajikan itu sebajik
namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang
yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka
yang melakukannya. Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga
dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada,
tenang, tenteram dan damai.
Perbuatan baik itu laksana
wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga
orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan
itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik. Menebar senyum
manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah
jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi, "... meski
engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri." (Al-Hadits)
Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang
kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini
merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha
Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
(Padahal tidak ada seorang pun memberikan
suatu nikmat kepadanya yang harus
dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu
semata-mata) karena mencari keridhaan
Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia
benar-benar mendapat kepuasan.) (QS. Al-Lail: 19-21).
Memahami situasi
masyarakat Indonesia
bukanlah merupakan pekerjaan yang sederhana. Indonesia memiliki keanekaragaman
sejarah, budaya, suku, dan agama yang begitu komplek. Berbicara tentang
persaudaraan dalam kacamata islam, islam sangat memperhatikan masalah ini,
islam telah mengatur bagaimana seharusnya seseorang bersikap dan bertindak
dalam menghadapi lawan interaksinya dengan baik. Tidak hanya mengatur tata cara
persaudaraan sesama muslim akan tetapi juga mengatur suatu konsep persaudaraan
antar umat beragama yang berbeda keyakinan dan ritualnya dengan ajaran islam.
Kita dapat mengambil
contoh tentang bagaimana persaudaraan yang baik terhadap non-muslim, yang
sering anak muda tonton adalah film ”Ayat-ayat Cinta”, film ini mengajarkan
kepada kita bagaimana seharusnya seorang muslim berinteraksi dengan baik kepada
orang yang berbeda agama. Lebih-lebih kita menyimak hadis nabi yang terucap
dari ucapan Fakhrie :”man adzaa dzimmiyan faqod adzaanie, wa man adzaanie faqod
adzallaha”
Artinya : ”Barang siapa yang menyakiti
seorang ahli dzimmah, maka ia telah menyakiti aku, dan barang siapa yang menyakiti aku
maka ia telah menyakiti Allah”.
Contoh Penerapan
Ukhuwah Islamiah
1. Rasul mempersaudarakan
antara kaum Muhajirin dan Anshar, antara Aus dan Khazraj. Saat itu Rasul
menggenggamkan tangan dua orang, seorang dari Muhajirin dan seorang lagi dari
Anshar. Maka Rasulullah mempersaudarakan antara Sa'ad bin Rabi' dan Abdurrahman
bin Auf. Saat itu, Sa'ad langsung menawarkan setengah hartanya kepada
Abdurrahman, memberikan salah satu dari dua rumahnya. Bahkan ia siap
menceraikan salah satu istrinya supaya bisa dinikahi oleh Abdurrahman. Pemuliaan
keimanan kaum Anshar ini diterima kaum Muhajirin dengan keimanan pula, sehingga
Abdurrahman bin Auf berkata, "Biarkanlah harta, rumah, dan istrimu
bersamamu. Tunjukkanlah aku pasar." Maka Abdurrahman meminjam uang dari
Sa'ad, sehingga Allah membukakan pintu-pintu rizki baginya, sehingga
Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu sahabat Nabi yang sangat kaya.
2. Setelah perang Badar,
kaum Muslimin menawan 70 orang musyrikin. Salah seorang dari kaum musyrik itu
bernama Aziz, saudara kandungnya sahabat Rasul bernama Mus'ab bin Umair.
Ketika Mus'ab melihat
saudara kandungnya, ia berkata pada saudaranya yang muslim, "Kuatkanlah
ikatannya. Mintalah uang darinya sesukamu, karena ibunya memiliki banyak
uang." Dengan terkejut Aziz berkata, "Apakah seperti ini wasiatmu
atas saudaramu?" Mus'ab berkata, "Kamu bukan saudaraku, akan tetapi dia
(sambil menunjuk seorang Muslim)." Ini menunjukkan bahwa ukhuwah atas
dasar agama lebih kuat dari hubungan darah.
3. Pernah seorang sahabat
Rasulullah memberikan segelas air kepada salah satu teman-temannya yang sedang
mengembala kambing. Temannya tersebut memberikan air kepada teman kedua. Yang
kedua memberikan kepada yang ketiga. Begitulah seterusnya, hingga air tersebut
kembali pada yang memberikan air pertama kali, setelah tujuh kali air itu
berpindahan tangan.
4. Salah seorang sahabat
Rasul bernama Masruq memiliki hutang yang banyak. Namun karena saudaranya
bernama Khaitsamah juga berhutang, maka Masruq membayar hutang Khaitsamah tanpa
sepengetahuannya. Sedangkan Khaitsamah, mengetahui saudaranya masruq memiliki
hutang yang banyak, ia pun membayarnya tanpa sepengetahuannya Masruq.
Semoga
Allah menjadikan kita saling bersaudara karena-Nya.
Daftar
Pustaka :
https://id-id.facebook.com/notes/mohamed-ibrahim-maricar/kekuatan-persaudaraan-islam/312835088727883