Rabu, 28 Oktober 2015

Persaudaraan Antar-Umat Beragama dari Segi Islam

Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas. Dalam hubungannya dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam mengajarkan agar umat Islam berbuat baik dan bertindak adil, selama tidak berbuat aniaya kepada umat Islam. Al-Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam mengutamakan terciptanya suasana perdamaian, hingga timbul rasa kasih sayang diantara umat Islam dengan umat beragama lain. Kerjasama dalam bidang kehidupan masyarakat seperti penyelenggaraan pendidikan, pemberantasan penyakit sosial, pembangunan ekonomi untuk mengatasi kemiskinan, adalah beberapa contoh kerja sama yang dilakukan antara umat Islam dengan umat beragama lain.
Namum perlu ditegaskan lagi, toleransi tidak dapat disama artikan dengan mengakui kebenaran semua agama dan tidak pula dapat diartikan kesediaan untuk mengikuti ibadat-ibadat agama lain. Toleransi harus dibedakan dari komfromisme, yaitu menerima apa saja yang dikatakan orang lain asal bisa menciptakan kedamaian dan kebersamaan.
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa teks yang mendukung sikap positif terhadap keyakinan lain. Misalnya yang menyiratkan bahwa pada dasarnya ajaran agama-agama kaum muslimin seharusnya tidak membedakan ajaran para Rasul.  Juga pada tempat-tempat ibadah dari agama yang berbeda-beda banyak disebut di Al-Qur’an:
 “Kata Rasulullah dan kaum mukminin….Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah 2 : 285).
Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.
Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik. Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi, "... meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri." (Al-Hadits)
Seteguk air yang diberikan  seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
(Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus
dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan
Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.) (QS. Al-Lail: 19-21).
Memahami situasi masyarakat Indonesia bukanlah merupakan pekerjaan yang sederhana. Indonesia memiliki keanekaragaman sejarah, budaya, suku, dan agama yang begitu komplek. Berbicara tentang persaudaraan dalam kacamata islam, islam sangat memperhatikan masalah ini, islam telah mengatur bagaimana seharusnya seseorang bersikap dan bertindak dalam menghadapi lawan interaksinya dengan baik. Tidak hanya mengatur tata cara persaudaraan sesama muslim akan tetapi juga mengatur suatu konsep persaudaraan antar umat beragama yang berbeda keyakinan dan ritualnya dengan ajaran islam.
Kita dapat mengambil contoh tentang bagaimana persaudaraan yang baik terhadap non-muslim, yang sering anak muda tonton adalah film ”Ayat-ayat Cinta”, film ini mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya seorang muslim berinteraksi dengan baik kepada orang yang berbeda agama. Lebih-lebih kita menyimak hadis nabi yang terucap dari ucapan Fakhrie :”man adzaa dzimmiyan faqod adzaanie, wa man adzaanie faqod adzallaha”
Artinya : ”Barang siapa yang menyakiti seorang ahli dzimmah, maka ia telah menyakiti aku, dan barang siapa yang menyakiti aku maka ia telah menyakiti Allah”.
Contoh Penerapan Ukhuwah Islamiah
1. Rasul mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, antara Aus dan Khazraj. Saat itu Rasul menggenggamkan tangan dua orang, seorang dari Muhajirin dan seorang lagi dari Anshar. Maka Rasulullah mempersaudarakan antara Sa'ad bin Rabi' dan Abdurrahman bin Auf. Saat itu, Sa'ad langsung menawarkan setengah hartanya kepada Abdurrahman, memberikan salah satu dari dua rumahnya. Bahkan ia siap menceraikan salah satu istrinya supaya bisa dinikahi oleh Abdurrahman. Pemuliaan keimanan kaum Anshar ini diterima kaum Muhajirin dengan keimanan pula, sehingga Abdurrahman bin Auf berkata, "Biarkanlah harta, rumah, dan istrimu bersamamu. Tunjukkanlah aku pasar." Maka Abdurrahman meminjam uang dari Sa'ad, sehingga Allah membukakan pintu-pintu rizki baginya, sehingga Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu sahabat Nabi yang sangat kaya.
2. Setelah perang Badar, kaum Muslimin menawan 70 orang musyrikin. Salah seorang dari kaum musyrik itu bernama Aziz, saudara kandungnya sahabat Rasul bernama Mus'ab bin Umair.
Ketika Mus'ab melihat saudara kandungnya, ia berkata pada saudaranya yang muslim, "Kuatkanlah ikatannya. Mintalah uang darinya sesukamu, karena ibunya memiliki banyak uang." Dengan terkejut Aziz berkata, "Apakah seperti ini wasiatmu atas saudaramu?" Mus'ab berkata, "Kamu bukan saudaraku, akan tetapi dia (sambil menunjuk seorang Muslim)." Ini menunjukkan bahwa ukhuwah atas dasar agama lebih kuat dari hubungan darah. 
3. Pernah seorang sahabat Rasulullah memberikan segelas air kepada salah satu teman-temannya yang sedang mengembala kambing. Temannya tersebut memberikan air kepada teman kedua. Yang kedua memberikan kepada yang ketiga. Begitulah seterusnya, hingga air tersebut kembali pada yang memberikan air pertama kali, setelah tujuh kali air itu berpindahan tangan. 
4. Salah seorang sahabat Rasul bernama Masruq memiliki hutang yang banyak. Namun karena saudaranya bernama Khaitsamah juga berhutang, maka Masruq membayar hutang Khaitsamah tanpa sepengetahuannya. Sedangkan Khaitsamah, mengetahui saudaranya masruq memiliki hutang yang banyak, ia pun membayarnya tanpa sepengetahuannya Masruq.
Semoga Allah menjadikan kita saling bersaudara karena-Nya.




Daftar Pustaka :